Bertualang di Bumi Flores

Bagi saya ini adalah perjalanan yang mengasyikkan karena bisa mendapatkan sejarah, kebudayaan, gunung dan laut sekaligus ...


Saya punya prinsip kalau perginya jauh harga tiket pesawatnya mahal, maka harus bisa mendapat banyak tempat wisata untuk dikunjungi, dengan kata lain saya tidak mau rugi. Meskipun demikian tetap harus ada yang bisa dipangkas biayanya, oleh karena itu untuk tujuan ke pulau Flores saya memilih  penerbangan dari Jakarta ke Maumere. Tiba di Maumere hari masih sore, sekitar pukul 4, sementara itu untuk mencapai Desa Moni di kaki Gunung Kelimutu perjalanan membutuhkan waktu sekitar 3 jam. Mobil sewaan sudah menunggu, sialnya sopir tidak membawa sign board, padahal sudah diingatkan, sehingga keluar dari ruang kedatangan kami saling mencari dan mengirangira.

Perjalanan Ke Desa Moni

Pemandangan dari Maumere menuju ke Desa Moni biasa-biasa saja, di sana sini terdapat rumah  penduduk, semakin lama semakin jarang dan gelap, perut juga mulai berontak minta diisi, tapi sepanjang perjalanan tidak terdapat rumah makan. Di antara gelapnya malam dan sepinya jalanan saya teringat akan cerita seorang perempuan, turis dari Yunani ketika berkunjung ke NTT yang datang  sendirian tahun lalu, diturunkan oleh sopir bis di tepi jalan pukul 1 pagi sampai akhirnya nangis karena tidak tahu ada di mana dan harus ke mana.

Tiba-tiba sopir membelokkan mobilnya masuk ke jalan kecil hati saya dag dig dug … lampu temaram terlihat dari sebuah bangunan … creepy … “Mau kemana ini?” “Katanya ibu mau makan, ini  restorannya”, jawab Frans si sopir. Pemiliknya Bapak Agustinus Naban di kartu namanya tertulis “German & English Speaking Guide, Pondok Wisata & Restaurant Laryss”. Restoran ini dari jalan raya tidak terlihat karena tertutup jajaran pohon-pohon besar yang cukup rapat, masuk jalanan tanah dan sedikit ke dalam ada satu bangunan segi empat setengah bata ke bawah dan beratap, sisi depan dan belakangnya terbuka … silir memang dengan angin yang bertiup dari pantai di belakang restoran, tapi lampu bohlam dua buah menggantung di langit-langit membuat tempatnya seperti warung remang-remang. Makanannya lumayan enak. Tamunya cuma saya dan Frans.

Sampai di Desa Moni, meski pun sudah pesan di Eco Lodge, saya iseng ngintip ke hotel Flores Sare yang lebih murah … kamar standardnya super besar bisa buat main badminton, isinya dua ranjang besar bisa untuk empat orang.

Menyambangi Danau Tiga Warna dan Rumah Pengasingan Bung Karno Keesokan harinya pukul 3.30 pagi alarm berdering, meski pun masih ngantuk tidak ada waktu lagi buat merem melek. Saya harus bersiap-siap untuk menuju ke Gunung Kelimutu yang berjarak sekitar 45 menit berkendara mobil dari hotel Eco Lodge. Sesampainya di area parkir mobil dan dalam keadaan gelap gulita saya berjalan menuju ke puncak Gunung Kelimutu, sialnya lupa tidak bawa senter. Tidak ada orang sunyi senyap, cuma saya sendiri yang berjalan, lagi-lagi creepy. Butuh waktu 30 menit untuk mencapai puncaknya dengan melewati jalanan tanah berkerikil dan anak tangga.

Gunung berapi Kelimutu terletak di Pulau Flores, NTT, tersohor karena adanya danau tiga warna yaitu merah, biru dan putih yang bisa berubah-ubah warnanya. Danau berwarna merah dan biru terletak berdampingan hanya berbatas tebing yang dahulu dapat dilalui dengan jalan kaki, tetapi erupsi dan gempa bumi membuat tebingnya longsor. Menurut kepercayaan masyarakat setempat danau yang berwarna putih atau disebut Tiwu Ata Mbupu adalah tempat bagi jiwa-jiwa orang tua yang telah meninggal dunia, yang berwarna biru atau Tiwu Nuwa Muri Koo Fai merupakan tempat bagi jiwajiwa anak-anak muda yang telah meninggal dunia, sedangkan yang berwarna merah yang disebut Tiwu Ata Polo adalah tempat bagi jiwa-jiwa orang yang telah meninggal dunia, tetapi pada masa hidupnya melakukan kejahatan atau tenung.

Bagi masyarakat setempat khususnya suku bangsa Lio, jiwa-jiwa nenek moyang yang telah meninggal dunia perlu diberi makan. Biasaya acara adat ini dilaksanakan pada bulan Agustus tetapi tanggalnya yang menentukan adalah para tetua adat masingmasing suku yang disebut Mosalaki. Gunung Kelimutu sudah menjadi tempat wisata, sehingga tidak terkesan alami lagi dengan dibangunnya tangga untuk mencapai puncaknya, di bagian puncak terdapat bangunan dengan undak-undakan segi empat bujur sangkar yang semakin ke atas semakin meruncing, tempat wisatawan menikmati matahari terbit. Ketika langit mulai merah tempat ini sudah ramai oleh para wisatawan lokal dan luar negeri serta pedagang yang menggelar minuman, mie instan, dan kain tenun Flores. Acungan jempol bagi pedagang, tidak ada yang kejar-kejar wisatawan, mereka duduk manis menunggu datangnya pembeli.

Tetapi semua itu tidak mengurangi keindahan yang ditebarkan. Dari puncak tangga menghadap ke Timur terlihatlah Tiwu Ata Mbupu dan Tiwu Ata Polo, sedangkan di sebelah Timur Laut terlihatlah Tiwu Nuwa Muri Koo Fai. Setelah puas foto-foto dengan kamera saya kembali ke hotel untuk bersiap-siap melanjutkan perjalanan ke Ende, ke situs pengasingan rumah Presiden RI yang pertama Soekarno. Perjalanan membutuhkan waktu 2 jam dari Moni.

Rumah pengasingan ini sederhana saja, terletak di antara rumah-rumah penduduk biasa. Awalnya rumah ini milik Bp. Abdullah Ambuwaru yang  kemudian dijadikan museum. Isinya cuma tempat tidur dengan kelambu di dalam kamar dan 2 buah kursi serta satu meja marmer dan beberapa pernak pernik lainnya. Tak lupa saya mengunjungi Taman Renungan Bung Karno, sebuah taman dengan patung Bung Karno duduk di bangku di bawah pohon Sukun (Artocarpus altilis). Dalam renungannya di bawah pohon sukun bercabang lima inilah Bung Karno mencetuskan Pancasila yang menjadi dasar negara kita. Dari sini perjalanan pun berlanjut ke Labuan Bajo.

Menuju Labuan Bajo

Dari Maumere menuju ke Labuan Bajo dengan mobil membutuhkan stamina, meskipun lalu lintasnya sepi, tapi jalanannya berliku-liku, tidak heran bila dahulu pulau Flores dikenal dengan nama Nusa Nipa yang artinya Pulau Ular Pithon (Nusa = pulau, Nipa = ular pithon). Angkutan umum jarang terlihat kalaupun ada sepanjang hari saya cuma berpapasan dengan satu dua kendaraan saja. Kadang bis, kadang truk yang bagian belakangnya diisi dengan bangku kayu dan atasnya ditutup terpal. Jalan rayanya mulus, hanya ada sedikit perbaikan jalan. Yang disayangkan kurangnya sarana transportasi umum antar kota sehingga untuk menghemat  waktu harus menyewa mobil yang cukup mahal.

Saya sewa mobil 7,5 juta sudah termasuk bensin selama 8 hari di NTT. Untuk tip supirnya 100 ribu per hari. Rumah-rumah penduduk jarang terlihat di pinggir jalan, pantas kiranya wisatawan Yunani itu menangis di tengah malam “in the middle of nowhere”. Saya bermalam di Bajawa, hawanya dingin, hotelnya terletak di pinggir jalan raya menuju ke Ruteng, tanpa tetangga. Ada fasilitas air panas dan dingin, tetapi panas dan dingin tidak bisa berharmoni mencapai kehangatan yang saya inginkan, bisanya panas sekali atau dingin sekali, keluar airnya juga kecil sekali.

Dari Bajawa menuju ke kampung adat Bena dan Luba, jalanan masih berliku-liku tetapi menyuguhkan pemandangan yang indah. Gunung berapi Inerie mengikuti perjalanan ini, kadang seperti menghadang di tengah jalan. Gunung Inerie adalah gunung berapi tertinggi di Flores (2245 mdpl) bentuknya menyerupai kerucut dan menjadi latar belakang bagi kedua kampung ini …

Di kampung Luba terdapat 17 rumah panggung kayu beratap ilalang membentuk formasi segi empat berundak mengelilingi tanah lapang. Sedangkan di Bena terdapat 45 rumah sama-sama membentuk formasi segi empat. Masyarakat Flores sangat menghormati para leluhurnya oleh karena itu dibuatlah Ngadhu dan Bhaga untuk menghubungkan masyarakat dengan leluhur laki-laki dan perempuan. Ngadhu mirip peneduh bertiang tunggal beratap ilalang, sedangkan Bhaga berupa pondok kayu tanpa penghuni.

Selain itu di Bena terdapat peninggalan batu dari jaman megalitikum sebagai tanda bahwa leluhurnya dimakamkan di tempat itu. Tanduk kerbau, taring dan rahang babi juga dipajang di depan rumah sebagai simbol status sosial keluarga. Perlu diancungi jempol, kedua kampung ini bersih dari sampah.  Di kedua kampung ini juga dijual tenun dan ikat Flores buatan ibu-ibu di rumah masing-masing, harganya tentu lebih murah dibandingkan toko di Labuan Bajo dan yang mengasyikkan langsung dari tangan penenunnya ... autentik!!

Karena hari sudah siang dan malam ini menginap di Susteran Maria Berdukacita, Ruteng, maka saya  tidak bisa berlama-lama di kedua kampung ini. Susteran yang berfungsi sebagai hotel, cukup besar untuk ukuran Ruteng, kamarnya tidak besar tetapi bersih, halamannya ditata dengan tanaman menimbulkan kesan asri. Gerbang susteran digembok pada pukul 18:00. Ruteng cukup dingin, malam itu langit cerah, bintang-bintang bertaburan seperti lampu di pohon natal, sangat dekat, serasa dapat diraih. Enggan rasanya meninggalkan malam untuk masuk ke peraduan.

Tenun yang dijual di Ruteng berbeda dengan yang  di Bena dan Luba. Tenun Ruteng adalah khas  Manggarai, warnanya lebih cerah, motif dan bahannya juga berbeda. Di pasar banyak dijual tenun Manggarai ini. Sebelum masuk ke Labuan Bajo ada dua lokasi yang saya kunjungi. Yang pertama yaitu kampung adat Ruteng Pu’u. Di kampung ini bagian tengahnya terdapat halaman berbentuk bundar dan terdapat compang, atau tempat untuk melakukan upacara adat. Di sebelah timur compang terdapat 2 buah rumah adat yang dihuni oleh keluarga yang telah ditunjuk oleh Tua Golo, kepala adat.

Di dalam rumah adat yang dinamakan mbaru gendang ini disimpan peralatan (gendang, perisai, cambuk) untuk melakukan tarian tradisional yang bernama Caci. Sebagai ucapan syukur atas hasil panen mereka mengadakan upacara yang disebut Penti. Untuk itu perlu adanya korban hewan berupa kerbau dan babi yang darahnya diletakkan di altar batu yang disebut compang. Mampir ke tempat ini menambah wawasan saya mengenai adat istiadat suku Manggarai.

Lokasi kedua yang tak kalah menariknya adalah Desa Cancar. Mendaki dahulu ke atas bukit dan dari tempat ini terlihat sawah yang dibentuk seperti sarang laba-laba, sayang sekali pada saat saya kesana musim panen baru selesai sehingga menyisakan tanah yang gundul. Penduduk disini ramah-ramah, ketika saya duduk untuk bercakap-cakap, segelas kopi segera dihidangkan. Inilah cara mereka menyambut tamu. Ruteng memang penghasil kopi, kalau beruntung bisa membeli kopi hasil tumbukan penduduk yang sudah dimasukkan ke dalam kantong plastik.

Akhirnya sampai juga saya di Labuan Bajo yang merupakan akhir dari rangkaian perjalanan. Labuan Bajo adalah desa nelayan kecil yang tibatiba menjadi ramai dikunjungi turis gara-gara si komodo (Varanus komodoensis). Beberapa orang asing membuka penginapan di kota ini. Beberapa pulau di sekitarnya antara lain Bidadari, Kanawa, ikut kecipratan rejeki dengan berdirinya cottagecottage. Bidadari adalah private island, pengunjung yang tidak check in dilarang masuk ke kawasan hotelnya, hotelnya dipagar rapat, satpamnya juga galak. Kalau cuma snorkeling di sekitar pulau sih boleh-boleh saja.

Perjalanan ke Pulau Komodo sekitar 3 jam, cukup lama dan membosankan sebenarnya saya disarankan mengunjungi Pulau Rinca saja selain lebih dekat,  komodonya tidak perlu dicari jauh-jauh, mereka berkeliaran di seputaran dapur dekat pintu masuk. Inilah yang dijadikan persoalan oleh seorang turis asal Australia, “The Komodo became a pet, they did not live naturally”. Ya bagaimana lagi, kalau sudah trekking tidak ketemu komodo nanti juga nyesel. Saya tetap memilih ke Pulau Komodo meskipun pulau ini lebih jauh, rasanya lebih pas karena melihat komodo di Pulau Komodo, habitat aslinya.

Sesampainya disana Para wisatawan dikumpulkan terlebih dahulu dan diberi pengarahan oleh seorang ranger lalu dibagi dalam kelompok kecil. Dalam satu kelompok ada dua ranger, yang di depan sebagai penunjuk jalannya sambil membawa tongkat yang ujungnya bercabang dua sehingga membentuk huruf V, gunanya untuk mengusir komodo bila berhadapan. Setelah melakukan aktivitas di Pulau Komodo saya pun bersiap untuk kembali ke Labuan Bajo. Namun melihat beningnya air laut dan merasakan panasnya udara memang paling nikmat berenang di laut sambil snorkeling sepuasnya. Akhirnya snorkeling di Pink Beach, pulau Bidadari dan Pulau Kambing, menjadi penutup kegiatan hari itu dan besoknya saya sudah kembali ke Jakarta.

1. OCBC

Submit to FacebookSubmit to Google PlusSubmit to Twitter

2. strada

3. nissan

4. marbella

5. peppers

travelxposemagz

travelxposemagz
Official Account of TravelXpose Magazine. Published monthly. Follow us for news and info about travel and leisure, because Your Destination is Treasure.
Jakarta, Indonesia
 

6. red planet

swissbel

PT. ROCKIT MEDIA INDONESIA

Address: The Royal Palace Building Block C1-C2 Jl. Prof Dr. Supomo No. 178A Tebet Jakarta 12870
Telephone: (+6221) 8378-4051
Fax: (+6221) 8378-4052